Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2019

Untuk yang terlintas

banyak hal kurindukan
sebab hatiku kini temaram
kau jalanan tempat kuberhenti
tapi ternyata aku hanya melintas
sekilas

antara malam yang terlupa
aku ingin menggenggam kerlipmu
menjadikan gemerlang
bagi lilinku yang redup

aku suka menapaki jalanmu
menengadah dan meneduh di langitmu

begitulah rinduku
kian mendalam padamu
rumah di mana aksaraku
singgah dan tumpah

Bandung, 7 Juli 2019

Sabtu, 06 April 2019

Teruntuk Senja yang Mengantuk

: untuk para pekerja


Setiap sabtu malam secangkir kopi menjadi dingin.
dan deretan film bioskop, lalu lalang
Obrolan kita dan pedagang kacang goreng pinggir jalan
Mengitari ingatan,

Di sudut lain,
ratusan kardus siap berangkat menuju pelabuhan
diiringi kumandang adzan subuh
dan teriakan pak supir memecah lamunan

Di ujung bulan,
Lelaki dengan peluh di tubuh
sibuk hitung slip yang terselip di saku celana
berharap ada sisa sekadar untuk beli shampo dan sikat gigi
Juga untuk makeup istri- katanya

Langit biru,
memecah ruah kala pintu terketuk
Bocah-bocah semesta berlari
Belasan cangkir kopi mendingin di atas meja
: Sisa sabtu malam yang terlupa


                                                                                                Cibangkong, 7 April 2019

Jumat, 16 Februari 2018

Surat Dini Hari

Matahari masih terbit dari timur
Burung-burung masih berkicau dipagi hari
Petani masih bersiul seiring langkah kaki
Dan kamu masih tak di sini
Aku sudah mencarimu
Di katup-katup mawar itu
Di celah-celah ranting pepohonan
Di balik rusuk dedaunan
Aku kehilangan jejakmu
Jejak yang terhapus embus angin
Seiring membirunya hati, aku mengigil
Aku meronta saat namamu terpanggil
Biar kubercengkerama dengan merpati
Yang sudi jadi kurir tuk antar suratku pagi ini
Tapi surat hanyalah surat
Waktu ini masih ruang hampa tak berpenghuni
Kehadiranmu singkat!
Menenggelamkan tetesan airmata
Menjelmakan batu jadi debu
Terbawa angin, hinggap lalu hempas
-Bandung, 23 Maret 2015-

Sastra

Aku jatuh cinta pada aksara
Disusun jadi sebuah diksi
Menyatu jadi kalimat
Yang melekat di baitmu.
Tertegun aku pada lirik
Ungkapan yang tak mapan
Tapi elok menyejukan
Bersahaja
Semuanya melebur jadi satu
Jadi sastra yang kau baca
Kamu.
Bandung, 1 Maret 2016

Senin, 12 Februari 2018

Biar Ku Kecup Ekspresomu

::Biar Kukecup Espressomu
*dara

Aku begitu penakut.
Kita baru saja akan meneguk
Pekat, pahit espressomu
Sedang aku masih menghirup wanginya

Tak kuasa aku menyicipi sedikit pun
Padahal aku ingin
Menikmati kopi hingga tetesan akhir
Lalu bibir kita hitam, kita biarkan

Tapi aku masih hirup wanginya
Sedangkan kini kopi hanyalah kerak
Dalam cangkir yang minggu lalu kau minum

Kini, ku temui lagi kau meneguk espressomu
Di pojok sana, menghirup wanginya
Meneguk pahit pekatnya lagi
Menjadikan bibir dan gigimu meninggalkan sisa kopi
Masihkah aku takut mengecupnya?


Bandung, 21 Agustus 2017

Noktah Pena

Kutemui rindu di pelupuk matamu
Kutemui sisa rasa di pandang  teduhmu.
Kita berdua duduk berpangku tangan
Di meja angan.
.
Di ujung Dago, dengan segala balada cinta
Aku coba menggali kenanganmu
Dan kau coba membuka albumku
Memutar piringan hitam yang usang
Menyiram taman yang gersang
.
Tuhan bertahta, kita berduka
Sisa cintamu dan aku mengalir 
dalam sukma semesta.
Tak ingin waktu kian renta
Tapi takdir berkata berakhir
Kita terjebak dialektika
.
Kita tak lagi berkata
Barisan aksara melayang di udara
Rasa kita telah sampai pada sayap malam.
Lonceng telah berdenting
Urusan kita semakin genting
.
Pena kita belum habis
Kertas kita menunggu untuk ditulis
Aku masih terlena dengan teduhmu
Kau masih bercumbu dengan tawaku
.
Noktah pena berhambur di kamarku
Angin kota masih berbisik lirih namamu
Menunggu kau membelainya
Biar jadi rumah saat kau lelah, 
Biar jadi syair kala kau gundah
.
*Bandung, 27 Agustus 2017*
*Diksi Di ujung Dago terinspirasi dari puisi karya Acep Zamzam Noor

Kamis, 06 April 2017

Darah Penyesalan

Mawar Meranggas, jatuh berserak
Durinya menusuk hingga perih menancap rusuk
Aku duduk bersimpuh
Pada sajadah yang jarang kusentuh

Noda-noda hitam melekat dengan darah penyesalan
Ku congkel mataku, malu melihat perbuatan
Aku yang harusnya tunduk padaMu
Malah membangkang

Cahaya itu menarikku
Lidah kelu, detik jarum membeku
Kalau saja aku patuh padaMu
Tuhanku, di ujung napas izinkan aku menyebut namaMu


Bandung, 16 Februari 2016

Fana

Malam sudah menjelang, Kasih.
Enggankah kau pejamkan mata?
Sekejap saja kau temui aku dalam kefanaan
Bukankah esok kau akan temui lagi kenyataan?

Masih kulihat binar di bola mata itu
Dan pecahan-pecahan kenangan di pelupukmu
Hingga tetesan air yang mengalir di pipimu

Enggankah kau berkedip, Kasih?
Sejenak saja kau temui bayangku

Biar enyah aku, lalu kau tak pilu


2016

Senandung Lagu Pinggiran

*Oleh Rahma Nur Amalia

Kota ini terlalu kaya, Tuan
tak ada sepotong roti yang dapat kami makan
hilir-mudik kaki tanpa alas
sementara daun pohon terus meranggas

Kota ini terlalu indah, Tuan
Lalu kami lekat-lekat menatapnya dari balik tabung
yang disimpan di gedung kelurahan
Sebelum kembali ke kardus-kardus
tempat bernaung di kolong jembatan

Kota ini terlalu menyenangkan, Tuan
Hingga setiap hari kami berdendang lagu
di setiap bis sambil melaju

Kata pak guru, "Kota ini adalah kolam susu
ikan  dan udang menghampirimu."
Coba Tuan, jelaskan lagi bagian mana yang dapat kami nikmati?


Dago, 3 Januari 2016

Jumat, 26 Februari 2016

Rerintik Rindu

Karya Rahma Nur Amalia
Editor: Yansa El-Qarni

Bandung kini hujan,
Mungkinkah ini karena kerinduan?
Yang meledak jadi tetesan
Lalu meresap pada jiwa-jiwa resah
Dan menjadi candu bagi mereka yang gelisah

Bagaimana bisa kita merindu pada manusia?
Padahal ada yang lebih pantas dirindu
Ialah yang kumpulkan rindu itu pada hati
Kemudian ledakannya jadi rerintik
Yang lesap diserap tanah
Hingga tumbuhkan bunga-bunga

Adakah cinta seromantis itu?
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?


Bandung, 22 Februari 2016

Sabtu, 03 Oktober 2015

H I L A N G

Detik jarum jam mengetuk
keringat melesap di letih-letihku
yang kemarin kau lihat
adalah nestapa yang kusiangi ceria

Semerbak kamboja di pusaramu
atau baitan doa yang menepi
Aku ingin menjelma suara
atau goretan aksara di nisanmu

remuk
          retak
hening
         hilang
Aku Tanpamu

Batu

Tak peduli kebanyakan org bercakap.
Tentang agama, politik atau ideologi mereka.
Kalau sudah jdi batu mau apa?
Ini itu ini itu katanya.
Melongo orang awam dibuatnya.
Gampang buat mereka
Makan saja tinggal minta
Kami?
Kami batu
Ditendang melayang
Diinjak tetap keras
Kami batu
Diam
Diam
Diam
Tuan mau makan tinggal minta
Kami?
Tuan cakap nikah muda
Nah kami?
Tuan mau makan tinggal minta
Nah kami? Menyerbu
serbu
retak
rusak
Kelaparan
-Sastra Anjani, di luar angkasa

Jumat, 21 Agustus 2015

Aku dan Miranda

Bak kelinci yang dikejar srigala
Berlari terbirit-birit mengejar mentari
Mentari pagi hampir dekat
“Aku lelah Miranda!” keluhku

Ah, darah ini berderai
Getir terasa luka ini
“Sakit sobat” keluhku
Tersimpul senyum bersama garis wajah
Miranda, Oh Miranda

Sepanjang jalan, Kembang Kempis napasku
Memijakan bumi kakiku tak mampu
Kaku sudah tubuhku,
“Miranda kau tak lelah?” tanyaku

Tertumus aku ke tanah
Lantas kau topang aku dan kau berlari
Tibalah kita di garis finis, tersimpul lagi senyummu
Padahal kutahu kau berlari bersamaku



 Bandung, 7 Januari 2015

Bintang


Bermegah dalam dirgantara malam
Pendarkan terang dalam temaram
Menyelinap  dan bungkam keadaan
Jauh dirimu, takan pernah kulupakan

Rinduku bak kirana
Terpendar ke segala
Tapi mengapa kau tak merasa

Bintang datang dan pergi, siang dan malam
Di bukit ini aku menunggu
Malam-malam denganmu lukis cakrawala
Lalu hilang dalam bejana kelam

Kukulum rindu dalam jarak terbentang
Tanah yang tandus dan kering
Guratkan hikayat dan luka mendalam
Saksi bisu yang merayu

Ku sebut kau bintang
Ku sepi dan kau datang
Ku sebut kau bintang
Ku sepi dan kau hilang

 13 Februari 2015





Meramu Rindu

Oleh: Rahma Nur Amalia

Aku meramu rindu
Pekat malam jadi hikayat syahdu
Kampung halaman, kini menjadi nyanyian kelam
Jadi alunan nada yang berdendang dalam temaram

Aku kembali,
Pada rinai penantian yang terjadi
Berdiam menatap purnama
Tangisan tanpa tetes air mata

Aku kembali,
Pada tawa kanak-kanak yang hilang
Bayang ibu dan ayah yang berlari
Kini menjadi sebuah kenangan

Aku kembali, pada masa dimana sawah masih menghampar
Pada tanah merah yang belum bertemu aspal
Tentang balada yang terekam

“Kampung halamanku, ku janji aku akan pulang”

Peri Kecilku


Kado terindah dari tuhan, itulah dirimu
Kau hadir dengan tangan mungil nan lucu
Menjadi senyuman bagi yang ada di sekelilingmu
Menjadi  pelipur lara dan penenang Qalbu

Tuhan menyayangimu, ia menciptakanmu kala tersenyum
Hingga kau begitu indah, tularkan senyuman
Hingga kau begitu cantik, bak bulan yang bercahaya di setiap malam
Dan hingga setiap kelam menjelma hitam
Kau menjadi penerang dengan tawa penuh keanggunan

Tapi, waktu begitu singkat
Sekali lagi kukatakan, tuhan begitu menyayangimu
Hingga Ia mengambilmu, untuk kembali padaNya
Kembali pada tempat terindah, ialah SurgaNya.

Anakku, senyummu selalu abadi
Menjadi kehangatan bak mentari
Kau ajariku ketegaran, kau ajariku keikhlasan
Anakku, doa ibu menyertaimu

Bandung, 17 Mei 2015
Karya Rahma Nur Amalia, dipersembahkan spesial untuk keponakanku Almh. Alvia Nur Raisya

Selamat ulang tahun, semoga Allah selalu memelukmu dengan cahayaNya

Lagu Kesunyian

Awan tersenyum setelah jatuhkan rinai hujan itu
Semesta ceritakan balada cinta yang rapuh
Dan diantara batas-batas senja
Matahari berbicara tentang kesunyian
Sebelum tenggelam lalu berganti malam

Siang jadi abadi, bagi para pekerja keras
Malam jadi alunan nada sendu,
bagi para penyair yang mencoba terbang bebas






Lilin Putih


Oleh: Rahma Nur Amalia

Kini tiada lagi ketulusan
yang membuatku pahami arti kehidupan
selain lilin-lilin putih yang kau nyalakan
dari kelamnya sang mega malam
Setiap lekuk guratan wajahmu
Adalah gambaran ketulusan semesta
Cinta kasihmu setegar suaramu
Bagai pesona pelangi di langit senja
Diamnya dirimu menjadi nasihat untukku
Berbalut peluh, melawan waktu
Tanpa keluh maupun hujan pada matamu
Hanya keharuanlah yang  tampak darimu
                Wahai Ayah dan Ibuku
                Kasih sayangmu mengalir sepanjang waktu
                Sesuci anugerah yang Maha cinta salurkan
Mengukir kisah terindah dan akan selalu menjadi kenangan
.               : Selamat ulang tahun Ayah dan Ibu

Kota Kembang, 10 Mei 2015

Teruntuk Ayah dan Ibu yang berulang tahun di bulan Mei

-Kontributor Antologi Puisi Kado Cinta, Uwais Indie Publisher-

Dermaga di Perantauan

Oleh Rahma Nur Amalia
:Untuk kerinduan pada kampung halaman

Membisu aku kaku
Terengkuh ombak, terkoyak sepi
Oh, Suaraku melemah parau
Air laut biru gambarkan rinduku di sini

Aku menitikkan air, sampai penuh menjelma jadi laut 
Jadi tempat hidup ikan-ikan dan santapan para konglomerat
Debur ombak menerpa diriku sekelebat
Mencuri rindu, menenggelamkan dan hanyut

Rinduku meruah bak lautan
Bak gelombang tak tertahan
Berbaur suara bahtera dari permukaan
Di sini, di balik dermaga perantauan

Pandanganku seperti Mercusuar yang  memancarkan cahaya ke sekeliling
Mataku memandang hamparan biru  di bawah gumpalan putih
Disusul embus angin yang ayunkan dedaun kelapa
Menambah kerinduan yang kubawa

“Aku merindu ibu!”
Ku biarkan angin membawa setiap gelombang yang terlontar
Bersama ucapan, dibawa para nelayan.
: Di Dermaga perantauan aku berjanji untuk kembali

Bandung
31 Maret 2015


Hati yang membiru



Aku menelisik malam, mencari puing ilusi yang memudar.
Langit hitam tapi hatiku terus membiru
Sebutir cinta ku beri padamu, agar kau tanam dan tumbuh.
Inikah cinta?
“Ada hal yang tak terucap tapi harus diperjuangkan” katamu
Aku merindu hujan, bersamanya air itu menyamarkan lelehan air dari sumber mataku
Aku merindu terik, bersamanya aku melihat sorot matamu
Aku merindu kau, bersamamu aku melihat semuannya

Sersan Bajuri-Bandung, 19 Maret 2015