Senin, 12 Februari 2018

Noktah Pena

Kutemui rindu di pelupuk matamu
Kutemui sisa rasa di pandang  teduhmu.
Kita berdua duduk berpangku tangan
Di meja angan.
.
Di ujung Dago, dengan segala balada cinta
Aku coba menggali kenanganmu
Dan kau coba membuka albumku
Memutar piringan hitam yang usang
Menyiram taman yang gersang
.
Tuhan bertahta, kita berduka
Sisa cintamu dan aku mengalir 
dalam sukma semesta.
Tak ingin waktu kian renta
Tapi takdir berkata berakhir
Kita terjebak dialektika
.
Kita tak lagi berkata
Barisan aksara melayang di udara
Rasa kita telah sampai pada sayap malam.
Lonceng telah berdenting
Urusan kita semakin genting
.
Pena kita belum habis
Kertas kita menunggu untuk ditulis
Aku masih terlena dengan teduhmu
Kau masih bercumbu dengan tawaku
.
Noktah pena berhambur di kamarku
Angin kota masih berbisik lirih namamu
Menunggu kau membelainya
Biar jadi rumah saat kau lelah, 
Biar jadi syair kala kau gundah
.
*Bandung, 27 Agustus 2017*
*Diksi Di ujung Dago terinspirasi dari puisi karya Acep Zamzam Noor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar